Nusa Dua, BALI – Untuk mewujudkan kawasan Asia Pasifik sebagai pusat perkembangan ekonomi dunia, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-21 APEC bertemakan ‘Wilayah Asia Pasifik yang Tangguh: Mesin Pertumbuhan Ekonomi Global’ ini, Indonesia telah menetapkan tiga prioritas. Ketiganya yaitu mencapai ‘Bogor Goals’, pertumbuhan berkelanjutan dan berkeadilan, serta konektivitas.

“Saya percaya melalui kerja sama erat dengan komunitas bisnis, APEC dapat mencapai prioritas ini,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada bagian lain sambutannya saat membuka APEC CEO Summit 2013 di Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua, Bali, Minggu (6/10) pagi.

Bogor Goals merupakan deklarasi yang dihasilkan dalam KTT APEC tahun 1994 di Bogor, yang bertujuan menciptakan liberalisasi sistem perdagangan dan investasi tahun 2010 untuk negara maju, dan selambat-lambatnya tahun 2020 bagi negara berkembang.

Presiden SBY mengatakan, ekonomi APEC telah mencapai kemajuan luar biasa menuju pencapaian Bogor Goals. Tapi meskipun APEC telah mengurangi tarif rata-rata dari 16,9 persen pada tahun 1989 menjadi 5,7 persen pada 2011, namun tindakan seperti prosedur kepabeanan yang panjang dan infrastruktur transportasi yang buruk masih menjadi tantangan untuk berdagang.

“Kita akan terus bekerja untuk membebaskan perdagangan dan investasi, serta integrasi ekonomi kawasan yang lebih mendalam. Kita harus memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan-tantangan. Kita harus mampu mengatasi hambatan perdagangan, ketidakstabilan keuangan, dan fluktuasi harga komoditas,” jelasnya.

Prioritas kedua, mewujudkan pertumbuhan berkelanjutan yang berkeadilan. Tantangan terberat saat ini adalah pertumbuhan jumlah penduduk dunia yang terus meningkat yang jumlahnya mencapai 7 miliar jiwa. Pada tahun 2045, jumlah ini diperkirakan menjadi 9 miliar orang. Peningkatan terbesar terjadi di kawasan Asia Pasifik, yang membuat beban terhadap pasokan energi, pangan, dan air.

Untuk mencapai tujuan APEC, lanjut Presiden, mempertahankan jalur pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif adalah sangat penting. APEC harus berupaya untuk fokus pada pemberdayaan ekonomi, keterlibatan stakeholder, peningkatan daya saing global UKM melalui inovasi dan meningkatkan produktivitas perempuan dalam perekonomian. “Hal ini juga penting untuk memastikan keuangan menyeluruh, memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan akses ke pelayanan kesehatan,” tegasnya.

Prioritas ketiga adalah meningkatkan konektivitas. SBY menilai munculnya teknologi baru telah membuka cara baru bagi orang untuk melakukan bisnis dengan satu sama lain di seluruh negara. Oleh karena itu, peningkatan konektivitas menjadi prioritas penting .

“Saya percaya bahwa peningkatan yang berfokus pada konektivitas, kelembagaan, dan people-to-people contact akan membantu mengintegrasikan wilayah kita. Ini juga akan memfasilitasi arus barang, jasa, modal, dan orang-orang dari wilayah Asia-Pasifik,” kata Presiden. “Kita harus bekerja sama untuk memperkuat konektivitas melalui pembangunan infrastruktur dan promosi investasi infrastruktur,” tambahnya.

SBY juga mengungkapkan, saat ini Indonesia telah menjadi negara dengan perekonomian mencapai triliun dolar, dengan jumlah kelas menengah yang besar. Bahkan McKinsey memprediksi peluang bisnis di Indonesia akan meningkat hingga 1,8 triliun dolar AS pada tahun 2030. Peluang bagi sektor konsumsi, pertanian dan perikanan, sumber daya untuk industri pendidikan, dan infrastruktur. Indonesia juga turut menciptakan bisnis dan lingkungan investasi yang lebih baik untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.

“Dalam kapasitas saya sebagai kepala pemasaran ekonomi Indonesia, saya mengundang anda semua untuk membuka dan memanfaatkan peluang bisnis yang ada di Indonesia. Mari kita bangun kemitraan dan APEC yang lebih tangguh. Dan pastikan APEC akan membawa pada kesejahteraan yang tetap memperhatikan lingkungan,” tambahnya.(*)