Operasi moneter (OM) Bank Indonesia (BI) memperlihatkan sampai dengan pekan kedua november 2010, suku bunga kredit konsumsi (KK) efektif rupiah masih terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga KMK (kredit modal kerja) dan KI (kredit investasi) efektif.

Kredit konsumsi ini khususnya pada kelompok bank Persero, KCBA (kelompok campuran bank asing) dan dan bank Campuran.

Kredit konsumsi yang dimaksud adalah kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), dan kredit pemilikan apartamen (KPA). Sementara KMK meliputi kredit untuk segmen menengah seperti untuk UKM (usaha kecil menengah).

Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah dalam keterangan tertulisnya ke Tribunnews.com, Rabu (10/11/2010), mengatakan secara industri, suku bunga KK efektif rata-rata sebesar 15,46 persen.

Sementara suku bunga KMK 14,11 persen dan KI efektif industri perbankan 14,48 persen. “Selama pekan laporan hampir semua kelompok bank menurunkan suku bunga efektif kredit rupiah, kecuali kelompok BPD dan KCBA,” kata Difi.

Kelompok BPD (Bank Pembangunan Daerah) meningkatkan KK efektifnya hingga 15 bps (basis poin), sementara KCBA meningkatkan KI efektifnya hingga 43 bps.

“Peningkatan inilah yang mengakibatkan secara industri KI efektif naik hingga 14 bps,” kata Difi.

Sebaliknya, untuk suku bunga efektif kredit valas, cenderung lebih stabil. Menurut Difi, peningkatan suku bunga efektif valas yang cukup signifikan dalam sepekan terakhir yaitu KMK dan KI pada kelompok Bank Campuran, yang masing-masing naik hingga 74 bps dan 21 bps.

-TribunNews

Penulis: hasanuddin_aco

Editor: anwarsadat