Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) mendorong bank pelaksana kredit usaha rakyat (KUR) menjalin linkage dengan koperasi maupun lembaga keuangan mikro lainnya. Hal tersebut dilakukan untuk dapat lebih menjangkau calon debitur KUR yang feasible hingga ke pelosok daerah.

Deputi Bidang Pengembangan dan Restukturisasi Usaha Kemenkop UKM, Choirul Djamhari, mengatakan bank pelaksana KUR menyatakan adanya kesulitan dalam memperoleh calon debitur KUR yang sesuai kriteria feasible, namun unbankable sehingga terjadi persaingan dalam memperoleh debitur KUR.

“Kesulitan mencari nasabah baru ini harus dirunut akar masalahnya karena itu kita dorong mereka untuk mencari koperasi atau lembaga keuangan mikro terseleksi untuk menjadi kepanjangan tangan bank melayani debitur KUR,” kata Choirul kepada Republika, Kamis (25/11).

Apalagi, lanjutnya, plafon KUR untuk program linkage executing dinaikkan dari Rp 1 miliar menjadi Rp 2 miliar. Langkah linkage inipun, ujar Choirul, juga untuk mengatasi keterbatasan sarana pendukung bank seperti SDM dan jumlah outlet.

Choirul mengakui, ada sejumlah kendala lainnya yang menghambat penyaluran KUR tahun ini, seperti keterlambatan memulai penyaluran KUR di awal tahun karena menunggu proses penyelesaian addendum KUR, penyiapan infrastruktur bank pelaksana untuk jumlah tenaga khusus KUR dan outlet, serta adanya program kredit di bank yang mirip dengan KUR, seperti kredit ketahanan pangan dan energi, kredit usaha pembibitan sapi, maupun produk yang dimiliki bank pelaksana KUR yang bunganya kompetitif.

“Untuk kredit yang mirip KUR ini menjadi kebijakan bank agar dapat tetap menyalurkan KUR tanpa mematikan program kredit yang lain,” tukas Choirul.

-Republika