Jakarta – Neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada bulan Agustus 2013 dan mencapai USD 132,4 juta. Hal itu diungkap Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan saat konferensi pers mengenai kinerja perdagangan, Rabu (2/10).

Menurut Gita, hal tersebut disebabkan oleh penurunan impor yang cukup drastis sebesar 25,2% (MoM). “Meskipun ekspor turun sebesar 12,8% (MoM) bulan ini, tetapi penurunan impor tersebut berhasil mengembalikan posisi neraca perdagangan Indonesia ke surplus,” terangnya.

Pada bulan Agustus ini, perdagangan nonmigas Indonesia berhasil mencapai USD 1 miliar (bulan sebelumnya defisit USD 474,4 juta), sedangkan perdagangan migas defisit 891,8 juta (bulan sebelumnya defisit mencapai USD 1,9 miliar.

Penurunan impor di bulan Agustus disebabkan oleh penurunan impor nonmigas sebesar 29,5% (MoM) dan impor migas 11,4% (MoM). Khusus impor migas bulan Agustus, volumenya turun 14,1% (MoM) dan 2% jika dibandingkan bulan Juni 2013. Sementara volume impor minyak mentah turun 18% (MoM) dan 15,9% dibandingkan Juni 2013. Untuk impor hasil minyak, volumenya turun 14,3% (MoM).

Sementara itu, penurunan ekspor di bulan Agustus dikarenakan belum pulihnya kondisi perekonomian global. Namun demikian secara kumulatif, defisit neraca perdagangan selama Januari-Agustus 2013 mengalami sedikit penurunan menjadi USD 5,54 miliar. Penurunan tersebut disebabkan oleh defisit perdagangan migas yang mencapai USD 8,52 miliar, sedangkan surplus perdagangan nonmigas hanya sebesar USD 2,98 miliar.

“Tetapi tekanan neraca perdagangan selama Januari-Agustus 2013 tidak hanya terjadi terhadap Indonesia, melainkan juga negara-negara seperti Brasil yang defisitnya mencapai USD 3,8 miliar; Thailand sebesar USD 20,1 miliar; Hongkong USD 58,1 miliar; dan Jepang USD 71,6 miliar,” papar Mendag.

China Tujuan Ekspor Nonmigas Teratas

Selanjutnya, Mendag mengungkapkan beberapa mitra dagang penyumbang surplus terbesar selama Januari-Agustus 2013, antara lain India, Amerika Serikat (AS), Belanda, Filipina, dan Malaysia. Surplus perdagangan dengan India dan AS mengalami peningkatan paling signifikan, yaitu masing-masing mencapai USD 5,8 miliar dan USD 4 miliar.

Sementara itu, mitra dagang yang menjadi penyumbang defisit terbesar pada periode yang sama adalah China, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Defisit perdagangan dengan China mencapai USD 6,2 miliar, sedangkan dengan Jepang USD 2,3 miliar; Korea Selatan USD 2 miliar; dan Australia USD 1,4 miliar.

Negara tujuan ekspor nonmigas yang memiliki pencapaian nilai ekspor terbesar selama Januari-Agustus 2013 secara berurutan adalah China dengan nilai sebesar USD 13,3 miliar; Jepang USD 10,6 miliar; AS USD 10 miliar; India USD 8,5 miliar; Singapura USD 7,1 miliar; Malaysia USD 4,9 miliar; Korea Selatan USD 4,1 miliar; Thailand USD 3,6 miliar; Belanda USD 2,7 miliar; serta Filipina USD 2,5 miliar. “Sepuluh pasar ekspor utama tersebut berkontribusi sebesar 69,2% dari total ekspor nonmigas,” imbuh Mendag.

Nilai ekspor ke beberapa negara yang nilainya mengalami kenaikan signifikan, antara lain Singapura dengan kenaikan mencapai USD 485,6 juta. Disusul urutan berikutnya adalah India,  Myanmar, Filipina, Rusia, AS, Turki, Nigeria, Ukraina dan Selandia Baru yang mengalami kenaikan nilai ekspor sebesar USD 60,3 juta sampai dengan USD 362,1 juta.

Harga Komoditas Ekspor Nonmigas Belum Membaik

Beberapa produk manufaktur yang memberikan kontribusi peningkatan ekspor paling signifikan selama Januari-Agustus 2013, antara lain kapal Laut meningkat USD 618,4 juta atau naik 265,7% dari periode yang sama tahun sebelumnya; dan produk  alas kaki yang ekspornya meningkat sebesar USD 225,3 juta atau naik 9,7%.

Secara umum, penurunan nilai ekspor selama Januari-Agustus 2013 dipicu oleh belum membaiknya harga beberapa komoditas ekspor nonmigas Indonesia di pasar internasional. “Hal ini ditunjukkan oleh total volume ekspor nonmigas yang mengalami peningkatan sebesar 21,3%, namun nilainya turun 3,3% selama periode tersebut,” jelas Mendag. Beberapa produk yang mengalami fenomena serupa, antara lain bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, karet dan barang dari karet, mesin- mesin/pesawat mekanik, dan berbagai produk kimia.

Selama Januari-Agustus 2013, struktur impor masih didominasi oleh impor bahan baku/penolong yang mencapai 76,2% dan barang modal sebesar 16,8%. Sedangkan impor barang konsumsi turun sebesar 2,2% (YoY) menjadi USD 8,7 miliar. Impor bahan baku/penolong naik 3,5% menjadi USD 95,2 miliar, sedangkan impor barang modal turun 18,5% menjadi USD 21 miliar atau jauh lebih rendah dari pada impor tahun lalu yang naik sebesar 28,6%.

Komoditas impor nonmigas terbesar selama Januari-Agustus 2013 secara berurutan adalah mesin-mesin mekanik dengan nilai sebesar USD 17,7 miliar; mesin/peralatan listrik dengan nilai USD 12,5 miliar; besi dan baja USD 6,8 miliar; kendaraan dan bagiannya USD 5,5 miliar; plastik USD 5,1 miliar; bahan kimia organik USD 4,7 miliar; benda dari besi dan baja USD 3,3 miliar; gandum USD 2,4 miliar; ampas/sisa industri makanan USD 1,9 miliar; serta kapas USD 1,7 miliar.

Sepuluh komoditas impor utama tersebut berkontribusi sebesar 49,3% dari total impor nonmigas. Komoditas nonmigas yang mengalami penrurunan impor signifikan, antara lain kapal terbang dan bagiannya dengan penurunan mencapai 60% (YoY) atau senilai USD 1,8 miliar; kendaraan dan bagiannya turun 17,1% (YoY) sebesar USD 1,1 miliar; dan mesin-mesin/pesawat mekanik turun 5,8% (YoY) sebesar USD 1,1 miliar. (*)