Akhirnya, pihak AirAsia Berhad berkomentar terkait beredarnya kabar pembatalan akuisisi maskapai lokal yaitu Batavia Air oleh AirAsia asal Malaysia. AirAsia Berhad (“AAB) mengumumkan perubahan strategi pada Conditional Share Sale Agreement (“CSSA”), yang telah disepakati pada tanggal 26 Juli 2012 bersama rekan usahanya PT. Fersindo Nusaperkasa (“Fersindo”). Kesepakatan ini adalah untuk membeli PT. Metro Batavia yang mengoperasikan maskapai penerbangan Indonesia, Batavia Air (“Metro Batavia”) dan Aero Flyer Institute (“AFI”), sebuah sekolah pelatihan penerbangan (bersama dengan “Grup Metro Batavia”).

Menurut rilis pers yang diterima oleh SME Magazine, Senin (15/10), perjanjian baru antara pihak-pihak terkait telah disusun ulang dan akan lebih memfokuskan pada kerja sama di dalam penanganan operasional di darat, distribusi, dan sistem inventaris. Kerja sama terpisah untuk pelatihan penerbangan dalam ruang kelas, fixed-wing, serta fasilitas pelatihan simulasi untuk membantu meningkatkan kemampuan para pilot di Indonesia akan segera diluncurkan oleh Batavia Air dan AirAsia Indonesia.

Perjanjian kerja sama baru ini diharapkan akan dapat memberikan kontribusi dan manfaat pada usaha AirAsia Indonesia dan Batavia seperti yang diharapkan dari rencana akuisisi Grup Metro Batavia oleh AirAsia dan Fersindo sebelumnya. Semua pihak berkomitmen penuh untuk memastikan kolaborasi yang baru ini akan berjalan sesuai dengan peraturan persaingan usaha yang berlaku. Kedua maskapai penerbangan akan terus beroperasi secara normal. Mempercepat peningkatan jumlah pesawat juga akan tetap menjadi prioritas bagi AirAsia.

Setelah melakukan studi dan proses diskusi yang panjang, berbagai perbedaan budaya dari kedua perusahaan telah menimbulkan perubahan pada persetujuan awal. Proses menyatukan dua perusahaan dengan budaya yang berbeda ini ternyata akan memerlukan waktu dan usaha yang lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Dari awal kami tahu bahwa ini tidak akan menjadi transaksi yang mudah. Akan tetapi, kami mendapat pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga terutama dalam hal mengembangkan usaha kami di Indonesia. Kami tidak akan menyerah untuk melebarkan sayap kami di negara yang sangat potensial ini serta mengusahakan rencana IPO dari AirAsia Indonesia dapat terlaksana secepatnya dan tetap melanjutkan kerja sama dengan Batavia Air. Keputusan yang telah dibuat oleh perusahaan kami sehubungan dengan Batavia Air adalah berdasarkan evaluasi secara menyeluruh dari berbagai pihak. Kami berfikir, waktunya mungkin kurang tepat karena dapat menimbulkan banyak resiko serta dapat mempengaruhi para pemegang saham kami,” CEO Grup AirAsia, Tony Fernandes.

Sementara itu, pemegang saham Fersindo, Muhamad Riza Chalid mengatakan, “Sebagai perusahaan Indonesia, salah satu tujuan kami adalah menemukan solusi yang terbaik untuk semua pihak, termasuk konsumen. Akan tetapi, dengan akuisisi ini kami merasa tidak akan dapat memenuhi tujuan tersebut. Kami akan terus mendukung penuh pertumbuhan AirAsia di Indonesia.”

Presiden Direktur AirAsia Indonesia, Dharmadi menyatakan bahwa maskapai penerbangan AirAsia Indonesia akan mempercepat penambahan jumlah armada pesawatnya mulai tahun 2013 dan seterusnya. “Kami menargetkan lebih dari tiga kali lipat pertumbuhan jumlah pesawat dalam kurun waktu lima tahun mendatang untuk mengakomodasi pertumbuhan penumpang dengan rata-rata sebesar 24% untuk pasar domestik dan 28% untuk pasar internasional. Kami akan terus memperkuat jaringan kami dengan menambah lebih banyak stasiun penghubung (hub) dan mengembangkan layanan kami ke bagian timur Indonesia,” ucapnya.

Dalam usaha untuk terus menjadi yang terdepan, AirAsia Indonesia juga akan meningkatkan sistem distribusi dan penjualan, menyediakan layanan yang berbeda sekaligus mengimplementasikan strategi harga yang dinamis.

Managing Director Batavia Air, Alice Tansari mengatakan, “Semua pihak telah bekerja dengan keras untuk mewujudkan transaksi ini. Namun, yang paling utama untuk kedua maskapai penerbangan adalah terus menyediakan layanan dan pilihan yang terbaik untuk para pengguna jasa transportasi udara di Indonesia, dan perjanjian kerja sama kami akan dapat mendukung hal tersebut.” (*)