PT Sarinah Persero dalam pengalaman membina dan mengembangkan UKM untuk ekspor, konsitensi kualitas produksi masih naik turun. Hal ini menjadi satu masalah yang perlu diperhatikan.

Direktur Utama PT Sarinah, Jimmy M Rifai Gani mengatakan dalam berbicara mengenai masalah ekspor UKM, rasanya ekspor sesuatu yang mudah dan enak sekali untuk dibicarakan dan untuk ditingkatkan. Tetapi, imbuhnya, banyak sekali permasalahan yang dihadapi, khususnya oleh UKM-UKM.

“Konsistensi kualitas ini sering kali naik turun. Jadi kadang-kadang produknya itu bagus, tetapi kadang-kadang juga produk yang dihasilkan itu tidak sebagus produk-produk yang dihasilkan sebelumnya,” ungkapnya, dalam Seminar “Pentingnya Lembaga Pembiayaan dan Perbankan dalam Meningkatkan Ekspor Nasional”, di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (30/11/2010).

Ditegaskannya, apalagi kalau terkait order yang semakin meningkat. Lebih lanjut dikatakannya, bahwa hal kualitas produksi ini menjadi sulit, kalau di sektor makanan.

Jimmy menilai mengenai masalah konsistensi kualitas ini yang perlu diperhatikan saat UKM akan dan tengah melakukan ekspor. “Karena kalau kita bicara ekspor, harapan atau ekspektasi pembeli di luar negeri itu jauh lebih tinggi dibandingkan harapan dari pembeli dalam negeri sendiri,” jelasnya.

Selain itum, delivery time juga menjadi satu masalah bagi UKM dalam ekpor produknya. Sering kali para eksportir, kata dia, tidak bisa memenuhi delivery time, dengan pelbagai alasan, termasuk kapasitas maupun perencanaan yang kurang baik.

Harga pun, menurutnya, sering tidak bersaing. “Juga disain satu faktor lain yang kita lihat sangat-sangat krusial dalam kita menembus pasar luar negeri,” ujarnya.

Diterangkannya, bahwa selain dari produk itu sendiri, pemasaran menjadi sangat penting kala ekpor produk itu ingin dilakukan UKM. Informasi pasar ini, imbuhnya, tidak dimiliki oleh para eksportir Indonesia, khususnya para UKM.

“Pemasaran sifatnya itu banyak yang berorientasi ritail, sehingga kalaupun ada pameran, kalaupun ada trade promotion itu lebih pada penjualan on the spot untuk  menghabiskan barang. Pola seperti ini saya rasa tentunya akan lebih baik, kalau kita melihat bagaimana mendapatkan sustainability order, sehingga kita tidak saja mengandalkan penjualan ritail itu saja, tetapi lebih bagaimana kita promosi jangka panjang,” paparnya.

Pengetahuan perdagangan internasional, pun, baik dari sisi hukum, regulasi, manajemen dan SDM, terangnya, semua merupakan permasalahan UKM dalam hal ekspor. Dan tentunya untuk masing-masing UKM selama mereka masih UKM diminta menangani masing-masing permasalahan ini dengan internal recourse. Diakuinya, untuk hal ini akan sangat sulit.

Di sinilah, menurutnya, Sarinah melihat perannya yang strategis. Sarinah mencoba untuk mengeksekusi satu konsep trading house, untuk memastikan konsistensi kulitas, delivery time dan harga.

“Pemasaran kita juga memberikan masukan-masukan spesifikasi dan disian yang tepat agar produk laku. Dan juga pengetahuan mengenai perdanganan internasional, untuk memastikan praktek dagang yang dilakukan sesuai standar internasional, baik hukum maupun pola pembayaran,” bebernya.

Begitu juga dengan pembiayaan, pihaknya juga membina dan memberikan pengetahun yang cukup dan membantu para UKM. Apalagi, imbuhnya, kalau berbicara mengenai order yang semakin meningkat. Ini juga menjadi satu hal yang perlu dijembatani.

Dalam hal ini, partisipasi Sarinah, dengan melakukan kerjasama dengan pihak perbankan maupun juga dengan menggunakan pola PKBL.

Konsep trading house yang tengah dikembangkan Sarinah untuk UKM dengan membuka bekerjasama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI/Exim Bank), untuk bisa mendanai program-program ekspor. “Kita bisa juga salurkan dengan PKBL kita ini, baik berupa pinjaman atau pembinaan kepada UKM-UKM yang kita anggap sangat bagus untuk bisa produknya kita ekspor,” ungkapnya.

-tribunnews.com