JAKARTA – Jan 05; Seiring dengan pemulihan krisis Global, Kementerian Perdagangan (Kemendag) optimistis kinerja ekspor akan positif pada 2010. “Ekonomi dunia diprediksi akan positif 3,2 persen, terutama didorong emerging market di Asia, yakni China dan India,” ucap Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam konferensi pers di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa, 5 Januari 2010.

Menurut Mari, realisasi serapan anggaran stimulus pasar dan gudang sepanjang tahun 2009 terserap 99%. Realisasi ini jauh dari dugaan semula yang diprediksi sebelumnya bakal tak terserap penuh. Di tengah kondisi global yang belum pulih, kata Mari, ekspor Indonesia tetap menembus di atas USD100 miliar.

Neraca perdagangan Januari-November 2009 mengalami surplus sebesar USD16,6 miliar atau 57,2 persen lebih tinggi dibanding surplus 2008 di mana perdagangan dengan Uni Eropa, AS, Korea Selatan, dan Malaysia masing-masing menciptakan surplus di atas USD1 miliar.

Pemerintah akan mengalihkan pasar ekspor ke beberapa negara Asia, seperti China dan India, ketimbang pasar besar yang selama ini diandalkan, Amerika Serikat dan Uni Eropa, pada 2010. Pasar Asia, dikatakan akan menjadi pasar potensial untuk pertumbuhan ekspor Indonesia. Itu karena, pemulihan krisis di pasar Asia lebih cepat ketimbang pasar Amerika Serikat dan Eropa.

Misalnya, ekspor ke China, pada 2004, hanya menyumbang 6,2 persen dari total ekspor Indonesia ke seluruh dunia. Sementara pada 2009, naik tajam menjadi 8,9 persen. Selain itu dengan India, pada 2004, sharenya hanya 3,7 persen namun pada 2009, naik menjadi 5,3 persen.

Secara keseluruhan, komposisi ekspor di 2009 (Januari-November) terdiri dari produk industri dengan kontribusi sebesar 75,4 persen (USD65,3 miliar), ekspor produk pertambangan sebesar 20,1 persen (USD17,4 miliar) dan produk pertanian sebesar 4,5 persen (USD3,95 miliar).

Nilai perdagangan Indonesia Januari-November 2009 berupa ekspor nonmigas ke Uni Eropa sebesar 14 persen, Jepang (12,4 persen), Amerika Serikat (10,9 persen), RRT (8,9 persen, Singapura (8,4 persen), Malaysia (5,7 persen), India (5,3 persen), Korea Selatan (5,2 persen), Taiwan (3 persen), Thailand (2,7 persen), serta negara-negara lain (23,8 persen).