Nusa Dua, BALI – Beberapa isu perdagangan, seperti kebijakan impor Indonesia terkait produk hortikultura dan daging sapi, serta perkembangan perundingan Indonesia-Australia Comprehensive Partnership Agreement (IA-CEPA) menjadi pembahasan dalam pertemuan bilateral Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan dengan Menteri Perdagangan dan Investasi Australia Andrew Robb, Jumat (4/10), di Hotel Laguna, Nusa Dua, Bali.

Dalam pertemuan ini, Mendag Gita Wirjawan menyampaikan, terkait kebijakan importasi hortikultura dan daging sapi, Indonesia kini lebih terbuka dan transparan. “Tidak ada lagi kuota dan kami terbuka untuk seluruh sektor swasta,” tegasnya.

Mendag Gita Wirjawan juga memahami, dalam kerja sama kedua negara, baik industri di Australia maupun importir di Indonesia akan mendapatkan keuntungan. “Namun perlu dipahami bahwa  konsumen  Indonesia  juga  harus  dapat  memanfaatkan  perdagangan  hortikultura  dan daging sapi ini. Konsumen Indonesia tentunya menginginkan produk yang berkualitas dengan harga yang kompetitif,” tekannya.

Selanjutnya, Mendag juga menanyakan kepada Menteri Robb mengenai kemungkinan pengusaha Indonesia untuk berinvestasi di Australia atau sebaliknya pelaku usaha Australia berinvestasi di Indonesia. “Penjajakan ini mungkin dapat dilakukan, khususnya di sektor industri sapi,” ujarnya.

Disamping isu hortikultura dan daging sapi, Mendag juga berkesempatan untuk menyampaikan perkembangan kerja sama IA-CEPA dan perundingan lainnya. Perundingan ke-3 IA-CEPA akan dilaksanakan di Bali pada 8-9 November 2013 mendatang. Hasil tersebut nantinya akan dilaporkan kepada kedua Menteri pada saat Trade Ministerial Meeting (TMM) pada 10 November 2013.

Terkait dengan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) World Trade Organization (WTO) di Bali pada bulan Desember tahun ini, Mendag menyampaikan harapan pemerintah Indonesia agar pertemuan tersebut mencapai kesepakatan, khususnya untuk isu-isu pertanian, fasilitas perdagangan, dan paket untuk negara-negara kurang berkembang (Least Development Countries/LDCs).

Pada 2012, Australia tercatat sebagai negara mitra dagang terbesar ke-12 Indonesia. Sebesar 1,9% ekspor Indonesia tertuju ke Australia. Pertumbuhan perdagangan kedua negara selama lima tahun terakhir (2008-2012) rata-rata sebesar 9,78%.

Pada periode Januari-Juni 2013, total perdagangan Indonesia-Australia sebesar USD 4,3 miliar atau turun 9,68% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 sebesar USD 4,8 miliar. Neraca perdagangan pada periode yang sama tahun 2013 menunjukkan defisit bagi Indonesia sebesar USD 461,5 juta.

Ditingkat ASEAN, perdagangan  Indonesia  dengan  Australia  menduduki urutan  ke-4. Berada di posisi pertama adalah Singapura dengan USD 22,7 juta; disusul Malaysia dengan USD 17,5 juta. Selanjutnya, di posisi ketiga ditempati Thailand dengan USD 15,5 juta, dan kemudian diikuti Indonesia dengan nilai USD 11,5 juta. (*)