Millward Brown, perusahaan dengan keahlian membantu membentuk merek yang kuat, merilis Link dengan Facial Coding untuk pasar Asia, Rabu (4/12). Solusi ini adalah hasil kerjasama Millward Brown dan Affectiva yang memungkinkan interprestasi otomatis terhadap respon cognitif, melalui deteksi perubahan raut wajah responden terhadap tayangan iklan – sebagai bahan rekomendasi bagi para pemasang iklan untuk meningkatkan efektivitas iklan.

Secara global, sejak diperkenalkannya solusi ini pada awal tahun 2012, Millward Brown telah menggunakan solusi Link dengan facial coding untuk melakukan tes terhadap lebih dari 3,000 iklan televisi yang sebagian besar merupakan perusahaan-perusahaan dalam jajaran Fortune 500. Bahkan, perusahaan ini telah memiliki basis data hasil tes dari lebih 1.200 iklan televisi di berbagai negara Asia.

“Setelah mendengar berbagai tanggapan positif dari klien serta melihat hasil tes dari lebih 1.200 iklan di Asia, kami percaya bahwa teknik pengukuran respon facial coding yang dikombinasikan dengan metode survei konvensional dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan hasil dari masing-masing pengukuran jika dilakukan secara terpisah” kata Mark Chamberlain, Managing Director Millward Brown Indonesia.

Menurut Mark, Millward Brown adalah satu-satunya perusahaan riset pemasaran yang mempunyai divisi khusus dalam bidang neuroscience. Integrasi perangkat lunak face coding Affdex dari Affectiva dengan solusi copy-testing Link dari Millward Brown merupakan jawaban terhadap kebutuhan para pemasang iklan untuk dapat mengukur respon emosi penonton terhadap sebuah tanyangan iklan secara akurat, dengan cara yang sederhana, hemat biaya dan sesuai kebutuhan. Namun, metode ini tetap akurat meskipun digunakan secara lintas kultural.

Penggabungan kedua metode unggulan ini dapat semakin memperkuat dukungan LINK  terhadap peningkatkan efektifitas penjualan. Sebab, Facial Coding telah terbukti sangat berguna untuk membantu memahami kekuatan emosional dari sebuah iklan, terlebih jika iklan tersebut sangat “edgy”dan menggunakan ide kreatif yang tidak lumrah.

Selain itu, dengan solusi ini para produsen bisa memperoleh gambaran yang jelas dan mengidentifikasi reaksi emosional yang sulit dijelaskan melalui metode survei konvensional. Solusi ini juga dapat menemukan titik transisi dalam sebuah iklan, yang mana dapat memperkuat pesan atau malah melemahkan – yang akan mempengaruhi pemahaman sebuah iklan, mengidentifikasi apakah kekhasan dan branding moments sebuah iklan bekerja dengan semestinya, serta memperlihatkan secara sistematis alur cerita pada sebuah iklan untuk optimasi sebuah iklan.

Di Indonesia sendiri, metode Facial Coding ini telah dilakukan kepada beberapa iklan merek ternama. Bahkan, untuk wilayah Asia Tenggara, jumlah klien dari Indonesia menempati urutan teratas.”Klien kami dari Indonesia ada sekitar 226 merek,” ucap Mark.

Project Management Manager Milward Brown Indonesia Siska Pangaribuan menjelaskan, secara teknis metode Face Coding ini dilakukan sebelum iklan ditayangkan. Responden akan berdiri di depan televisi untuk menonton iklan yang ditayangkan, kemudian melalui kamera yang mengarah ke wajah responden, program akan menganalisa perubahan ekspresi raut wajah responden. “Analisanya dilakukan per detik. Jadi, kita dapat mengetahui bagian mana dari sebuah iklan yang membuat respon senang, perhatian, dan kebingungan dari wajah penonton,” ungkap Siska.

Kemudian, kata Siska, respon tersebut akan dikumpulkan dari seluruh penonton dan disampaikan dalam dashboard interaktif yang memperlihatkan analisis dari respon penonton detik per detik, termasuk penyortiran dinamis menggunakan ukuran-ukuran survei. “Metode ini juga digabungkan dengan survei konvensional berbentuk kuesioner. Jadi, dua buah hasil akan didapatkan dalam satu kali survei,” jelas Siska.